Bagi kalian yang pernah membaca Majalah Donal Bebek mungkin pernah mendengar nama ‘Timbuktu’. Kata ini untuk menggambarkan sebuah tempat yang jauuuh sekali dan sangat terpencil. Pokoknya , jauh dari mana-mana deh. Di ujung dunia sana mungkin.
Tapi tahukan kalian dimana sih sebenarnya Timbuktu itu?
Ternyata Timbuktu adalah sebuah wilayah yang berada di negara Mali. Negara ini terletak di Benua Afrika. Secara geografis, Timbuktu terletak sekitar 15 kilometer dari Sungai Niger. Kota multietis ini dihuni oleh suku Songhay, Tuareg, Fulani, dan Moor. Pada abad ke-12 Timbuktu merupakan wilayah berperadaban tinggi di Afrika.
Waktu itu Timbuktu merupakan salah satu kota pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang termasyhur. Di era kejayaan Islam, Timbuktu juga sempat menjadi sentra perdagangan terkemuka di dunia. Rakyat Timbuktu pun hidup sejahtera dan makmur.
Seorang sejarawan abad ke-16 bernama Leo Africanus menggambarkan kejayaan Timbuktu dalam buku yang ditulisnya. ”Begitu banyak hakim, doktor dan ulama di sini (Timbuktu). Semua menerima gaji yang sangat memuaskan dari Raja Askia Muhammad, sang penguasa negeri. Raja pun menaruh hormat pada rakyatnya yang giat belajar,” tulis Africanus.
Memang pada masa itu ilmu pengetahuan dan peradaban tumbuh sangat pesat di Timbuktu. Rakyatnya begitu gemar membaca buku. Permintaan buku di Timbuktu sangat tinggi. Setiap orang berlomba membeli dan mengoleksi buku. Sehingga, perdagangan buku di kota itu menjanjikan keuntungan yang lebih besar dibanding bisnis lainnya.
Sejak abad ke-11, Timbuktu sudah menjadi pelabuhan penting dan menjadi tempat beragam barang dari Afrika Barat dan Afrika Utara diperdagangkan. Ketika itu garam merupakan produk yang sangat bernilai. Di Timbuktu, garam dijual atau ditukar dengan emas. Kemakmuran kota itu menarik perhatian para sarjana berkulit hitam, pedagang kulit hitam, dan saudagar Arab dari Afrika Utara.
Garam, buku, dan emas merupakan tiga komoditas unggulan yang begitu tinggi angka permintaannya pada era itu. Garam berasal dari wilayah Tegaza dan emas diproduksi dari tambang emas di Boure dan Banbuk. Sedangkan buku dicetak dan diproduksi para sarjana atau berkulit hitam dan ilmuwan dari Sanhaja.
Proses pembangunan pertama kali berlangsung di Timbuktu pada awal abad ke-12. Para arsitek Afrika dari Djenne dan arsitek Muslim dari Afrika Utara mulai membangun kota itu. Pembangunan di Timbuktu berlangsung menandai berkembang pesatnya perdagangan dan ilmu pengetahuan. Saat itu, Raja Soso diserbu kerajaan Ghana. Sehingga, para ilmuwan dari Walata eksodus ke Timbuktu.
Timbuktu pun menjelma menjadi pusat pembelajaran Islam serta sentra perdagangan. Di abad ke-12 M, Timbuktu telah memiliki tiga universitas serta 180 sekolah Alquran. Ketiga universitas Islam yang sudah berdiri di wilayah itu antara lain Sankore University, Jingaray Ber University, dan Sidi Yahya University. Inilah masa keemasan peradaban Islam di Afrika.
Buku-buku yang dijual di kota itu banyak yang didatangkan dari negeri Islam lainnya. Selain itu, tak sedikit pula buku-buku yang diperjualbelikan adalah hasil karya para ilmuwan dan sarjana di Tumbuktu. Di kota itu juga sudah ada industri percetakan buku. Perpustakaan universitas dan milik pribadi pun bermunculan dengan beragam koleksi buku yang ditulis para ilmuwan.
Namun kejayaan Timbuktu terus meredup seiring berlalunya waktu. Kini Timbuktu hanyalah sebuah kota terpencil dan tak banyak yang tahu, dan bahkan nyaris terlupakan. Sangat di sayangkan, ya? [Arif Haryanto]

